Setelah melalui verifikasi dan
penilaian oleh tim ahli, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia melalui Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya
menetapkan 77 karya budaya yang telah didaftarkan sebagai Warisan Budaya
TakBenda Nasional Indonesia. Enam diantaranya telah ditetapkan sebagai Warisan
Budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO. Berikut karya budaya yang telah
ditetapkan:
1. Wayang Indonesia
Wayang telah diakui oleh UNESCO
sebagai daftar perwakilan Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun
2008. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan rakyat yang masih banyak
penggemarnya hingga saat ini. Pertunjukan wayang dimainkan oleh seorang dalang
dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita
yang dibawakan. Cerita-cerita yang dipilih bersumber pada kitab Mahabarata dan
Ramayana yang bernafaskan kebudayaan dan filsafat Hindu, India, namun telah
diserap ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam setiap pegelaran, sang dalang
dibantu para swarawati atau sindhen dan para penabuh gamelan atau niyaga,
sehingga pertunjukan wayang melibatkan banyak orang. Di Indonesia, Wayang telah
menyebar hampir keseluruh bagian wilayah Indonesia. Jenis-jenisnya pun beragam
yang diantaranya adalah : Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang
Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang
Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil,
Wayang Rumput, Wayang Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak (Lombok), dan Wayang
Beber.
2. Keris Indonesia
Keris adalah benda budaya yang
eksotik dan original. Ini merupakan ‘karya seni’ sekaligus ‘benda budaya’
asli Nusantara. Budaya keris terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat,
Semenanjung Siam dan Sulu di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan
Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang
mendorong rasa kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Pada tahun
2005, Keris Indonesia telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia
.
Keris merupakan senjata tikam
golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak
fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah.
Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak
simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok,
dan banyak di antaranya memiliki pamor (serat-serat lapisan logam cerah)
pada helai bilah. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam
duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Saat ini,
penggunaan keris lebih banyak sebagai ornamen pelengkap dalam berbusana adat.
Sebagai produk kebudayaan, keris mengandung sejumlah nilai luhur kebudayaan
pembuatnya yang disimbolkan dalam berbagai bagian keris. Selain itu, keris juga
marak menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
3. Batik Indonesia
Pada dasarnya, batik merupakan seni
lukis yang menggunakan canting sebagai alat untuk melukisnya. Canting sendiri
merupakan sebuah alat berbentuk mangkok kecil yang terbuat dari tembaga dan
memiliki carat atau monong, dengan tangkai dari bambu atau kayu yang dapat
diisi malam (lilin) sebagai bahan untuk melukis. Canting ini dapat
membuat kumpulan garis, titik atau cecek yang pada akhirnya membentuk
pola-pola. Pola-pola inilah yang kemudian menjadi ragam hias dalam kesenian
Batik.
Membatik telah diwariskan secara
turun temurun hingga saat ini. Dengan pola tradisional ini, sejak dahulu
masyarakat menuangkan imajinasi melalui gambar pada batik. Masyarakat juga
telah mengenal seni pewarnaan tradisional dengan bahan-bahan alami sebelum
mengenal pewarnaan dengan bahan kimia. Batik yang tersebar hampir
diseluruh Indonesia memiliki bentuk ragam hias yang berbeda-beda diantara satu
dan lainnya. Pada tahun 2009, Batik diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya
Takbenda dari Indonesia.
4. Angklung
Angklung adalah alat musik
tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu dan dibunyikan dengan cara
digoyangkan. Alat musik ini berasal dari Tanah Sunda. Kata Angklung berasal
dari Bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yaitu gerakan pemain Angklung
dan suara “klung” yang dihasilkannya. Secara etimologis, Angklung berasal dari
kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Jadi Angklung
merujuk nada yang pecah atau nada yang tidak lengkap. Setiap angklung akan
menghasilkan nada yang berbeda, sehingga setiap penampilan membutuhkan lebih
dari satu angklung. Sedikitnya delapan nada dihasilkan oleh angklung. Angklung
telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada
tahun 2010.
5. Tari Saman Gayo dari Nanggroe
Aceh Darussalam
Saman adalah salah satu kesenian
tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Gayo di Kabupaten Gayo
Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur (Kecamatan Serbejadi), Kabupaten Aceh Tamiang
(Tamiang Hulu). Saman merupakan permainan tradisi yang biasa dilakukan oleh laki
laki yang umumnya usia muda untuk mengisi waktu luangnya. Baik pada saat di
sawah, mersah, sepulang mengaji di rumah pun mereka menyempatkan diri berlatih
Saman. Permainan Saman menjadi sebuah seni pertunjukan yang sering dipentaskan
sebagai media silaturahmi, menjalin persahabatan, penyampaian pesan-pesan
moral, pantun muda-mudi, penggambaran alam dan lingkungan sekitar, dan
sebagainya. Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang
membutuhkan pelindungan mendesak dari Indonesia pada tahun 2011.
6. Noken dari Papua
Noken Papua adalah hasil daya cipta,
rasa dan karsa yang dimiliki manusia berbudaya dan beradat. Walaupun Noken
berbentuk seperti halnya tas yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan
berbagai macam benda dan peralatan, namun masyarakat Papua sendiri tidak
menyebut noken sebagai tas. Bagi masyarakat Papua, Noken memiliki perbedaan
yang sangat signifikan dengan tas yang diproduksi pabrik, baik secara bahan,
jenis, model maupun bentuk Noken. Pada tahun 2011 Noken Papua dinobatkan oleh
UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia yang membutuhkan
pelindungan mendesak.
7. Tenun Ikat Sumba
Kain tenun ikat adalah kain tenun
yang pembuatan motifnya menggunakan teknik ikat. Teknik ikat dilakukan dengan
bagian-bagian tertentu dari benang, dengan maksud agar bagian-bagian yang
terikat itu tidak terwarnai ketika benang dimasukkan kedalam cairan pewarna.
Bagian-bagian yang diikat telah diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga
setelah ditenun akan membetuk motif-motif yang sesuai dengan yang diinginkan.
Pemerintah Indonesia sedang dalam proses mengajukan Tenun Ikat Sumba ke UNESCO
untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia.
8. Rencong dari Nanggroe Aceh
Darussalam
Rencong adalah simbol keberanian dan
kegagahan ureueng Aceh. Bagi siapa saja yang memegang senjata akan merasa lebih
berani di dalam menghadapi musuh. Pada masa sekarang, senjata ini memang sudah
tidak begitu relevan untuk digunakan sebagai senjata penyerang. Namum demikian,
senjata ini masih relevan sebagai sebuah simbolisasi dari keberanian,
ketangguhan, dan kejantanan dari masyarakat Aceh. Untuk itu, pada beberapa
upacara (seperti upacara pernikahan) rencong dipakai. Pemakaian benda ini lebih
mengarah kepada simbolisasi dari keberanian dari seorang lelaki dalam memimpin
keluarga setelah menikah.
9. Tari Tor tor dari Sumatera Utara
Tari Tor tor merupakan tarian
yang berasal dari Sumatera Utara. Tor-Tor pada awalnya bukanlah suatu
tarian, tetapi sebagai pelengkap gondang (uning-uningan) yang berdasarkan
kepada falsafah adat itu sendiri. Di dalam upacara-upacara adat di Mandailing
dimana uning-uningan dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi dengan acara manortor.
Pada awalnya manortor hanya diadakan pada acara-acara adat margondang,
namun dalam perkembangan selanjutnya manortor ini juga sudah dilakukan
pada acara-acara hiburan dengan cara memodifikasi tor-tor sedemikian
rupa agar lebih menarik bagi penonton yang dalam perkembangannya mengarah
menjadi tarian.
10. Gordang Sembilang dari Sumatera
Utara
Sesuai dengan namanya Gordang
Sambilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang relatif besar
dan panjang. Adapun kesembilan gendang tersebut mempunyai ukuran yang berurutan
dari yang besar ke ukuran yang paling kecil. Gordang Sambilan dikenal
pada masa sebelum Islam yang mempunyai fungsi untuk upacara memanggil roh nenek
moyang apabila diperlukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan paturuan
Sibaso yang berarti memanggil roh untuk merasuki/menyurupi medium
Sibaso). Tujuan pemanggilan ini adalah untuk minta pertolongan roh nenek moyang
untuk mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat. Misalnya penyakit
yang sedang mewabah karena adanya suatu penularan penyakit yang menyerang
suatu wilayah. Di samping itu Gordang Sambilan juga digunakan untuk upacara
meminta hujan (mangido udan) agar hujan turun sehingga dapat mengatasi
kekeringan yang menganggu aktivitas pertanian. Juga bertujuan untuk
menghentikan hujan yang telah berlangsung secara terus menerus yang sudah
menimbulkan kerusakan .
11. Rumah Adat Karo dari Sumatera
Utara
Rumah adat Karo terkenal dengan nama
rumah si waluh jabu artinya “rumah yang didiami delapan keluarga”.
Di dalam rumah tersebut diatur menurut ketentuan adat. Adapun delapan keluarga
ini memiliki posisi yang berbeda-beda dalam menempati rumah adat. Rumah adat
Karo didirikan berdasarkan arah kenjehe (hilir) dan kenjulu (hulu)
sesuai aliran sungai pada suatu kampung. 5. Randang dari Sumatera Barat
Rendang dalam bahasa Minangkabau disebut dengan randang adalah
salah satu makanan tradisional khas Minangkabau yang sangat terkenal ke
seantaro penjuru nusantara. Randang tersebut memiliki beberapa warna,
yakni merah kecoklatan, coklat, sampai coklat kehitaman. Pengertian randang yang
diambil dari kata marandang, yakni suatu proses pengolahan lauk berbahan
dasar santan yang dimasak sampai kandungan airnya berkurang, bahkan sampai
kering sehingga apabila disebut randang itu artinya olahan masakan yang
kering tanpa mengandung air.
12. Sistem Matrilineal dari Sumatera
Barat
Sistem Matrilineal merupakan sebuah
sistem yang dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau sampai sekarang ini. Di
Minangkabau terkenal dengan garis keturunan matrilineal. Biasanya wanita-wanitanya
yang memiliki rumah dan sawah. Rumah tangga-rumah tangga dikelompokkan menjadi clan
yang didasarkan pada garis keturunan wanita. Setiap anak wanita mendapat
warisan dari ibunya dengan memperoleh bagian yang sama besarnya dari sawah
milik ibunya. 7. Rumah Gadang dari Sumatera Barat.
13. Rumah Gadang dari Sumatera Barat
Rumah Gadang adalah rumah adat Minangkabau yang dibangun di atas
tiang-tiang tinggi dan bersendikan batu. Secara bahasa, Rumah Gadang
berarti Rumah Besar. Rumah ini memang ada yang besar, dengan jumah kamar sampai
sembilan, sebelas bahkan lebih, sesuai kemampuan ekonomi kaum yang membangun
dan jumlah perempuan yang menghuninya. Makna “gadang” atau “besar” Rumah Gadang
lebih mengacu ke fungsinya.
14. Aksara Ka Ga Nga dari Bengkulu
Dalam perspektif sejarah, secara
umum kita mengenal aksara daerah di Indonesia pada dasarnya berasal dari India,
termasuk diantaranya aksara Ka Ga Nga. Penyebaran aksara Ka Ga Nga banyak
terdapat di daerah Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung.
15. Dulmuluk dari Sumatera Selatan
Dulmuluk berawal dari kitab Kejayaan
Kerajaan Melayu yang selesai ditulis pada 2 juli 1845, yang berjudul Syair
Abdul Muluk. Teater Dulmuluk adalah teater tradisional Sumatera Selatan yang
lahir di Kota palembang. Awal mula terbentuknya teater ini adalah berupa
pembacaan syair oleh Wan Bakar yang membacakan tentang syair Abdul Muluk
disekitar rumahnya di Tangga Takat 16 Ulu pada tahun 1854. Agar lebih menarik
pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang ditambah
iringan musik gambus dan terbangan.
16. Songket Palembang dari Sumatera
Selatan
Songket Palembang sudah ada sejak
zaman Kesultanan Palembang. Songket telah ada di Palembang sejak ratusan tahun
silam dan diyakini sejak zaman Sriwijaya. Pada waktu itu kerajinan songket
merupakan suatu usaha sambilan bagi penduduk asli Palembang. Songket telah ada
bersamaan munculnya Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823).
Berdasarkan catatan sejarah yang berhak dan pantas memakai songket pada waktu
itu adalah raja atau sultan dan kerabat keraton. Songket yang dipakai oleh para
sultan di Palembang merupakan pelengkap pakaian kebesaran.
17. Mak Yong dari Kepulauan Riau
Di daerah Kepulauan Riau, tradisi
lisan Mak Yong telah dipertunjukkan sejak beberapa abad yang lalu dan menyebar
sampai ke Bangka, Johor, Malaka, dan Pulau Pinang. Di Kepulauan Riau, Tradisi
lisan ini berkembang pesat pada masa pemerintahan Kesultanan Riau (1722-1911).
Seni pertunjukan teater Makyong dimainkan dengan tarian, nyanyian, dan lawakan
yang terjalin dalam suatu alur cerita. Pemainnya 20 orang, yang pria bertopeng
sedangkan yang wanita mengenakan kostum gemerlap.
18. Krinok dari Jambi
Krinok merupakan salah satu seni vokal tradisi yang dimiliki
masyarakat Melayu di Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Muara Bungo. Seniman
krinok mengatakan krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa pra
sejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini. Ja’far Rassuh menduga cikal
bakal krinok sebagai sebuah seni suara telah ada jauh sebelum masuknya agama
Budha ke wilayah Jambi. Pada masa itu seni vokal digunakan untuk pembacaan
mantra atau do’a tertentu, inilah yang kemudian berkembang menjadi kesenian
krinok.
19. Dambus dari Bangka Belitung
Dambus merupakan musik yang telah
berusia ratusan tahun dan masih bertahan di Bangka Belitung. Gambus berkembang
sejak abad ke-19 bersama dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut,
Yaman Selatan ke Nusantara. Dengan menggunakan syair-syair kasidah,
gambus mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan mengikuti teladan
Rasul-Nya. Oleh karenanya, gambus digunakan para imigran menjadi sarana dakwah
di nusantara. Langkah ini kemudian diteruskan oleh para ulama untuk
berdakwah
Islam.
20. Tenun Siak dari Riau
Perkembangan Tenun Siak bermula
ketika Siak diperintah Sultan Said Syarif Ali, sekitar tahun 1800, ketika usaha
kerajinan tenun ini mulai dikenal luas. Pada masa lalu ada seorang bernama
Encik Siti binti E. Wan Karim yang berasal dari Trengganu, yang tenunannya
menggunakan benang sutera, katun dan emas. Tenunan itu sangat disenangi oleh
kalangan istana. Ia mengembangkan motif tradisional dan ciptaan baru sehingga
dikenal dan disukai kembali setelah agak terlupakan. Hingga kini, penenun Siak
dianggap lebih teguh mengembangkan corak asli Melayu, yaitu pucuk rebung, awan
larat, bunga cengkih, tampuk manggis, semut beriring, siku keluang, dan itik
pulang petang.
21. Gazal dari Kepulauan Riau
Ghazal adalah semacam musik orkestra
tradisi Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau. Asal Ghazalini dapat
ditelusuri dari irama padang pasir atau Timur Tengah yang menyebar ke Johor
Malaysia dan kemudian terus menyebar dan berkembang di Kepulauan Riau yaitu;
Penyengat, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, dan Batam.
Kesenian musik ghazal ini mulai
dikenal dan dikembangkan sejak zaman Kerajaan Melayu dan pada wakt itu tampil
musik ghazal ini untuk mengisi acara-acara Permbesar Kerajaan. Pendiri pertama
musik ghazal ini adalah Bapak Haji Kenal Muse atau yang lebih dikenal dengan
nama Pak Lomak yang berasal dari Johor Baru.
22. Gurindam Dua Belas dari
Kepulauan Riau
Kumpulan Gurindam Duabelas dikarang
oleh Raja Ali Haji dari Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena
berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak
terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup
bermasyarakat.
23. Tabot dari Bengkulu dan Tabuik
dari Sumatera Barat
Berasal dari kata ‘tabut’, dari
bahasa Arab yang berarti mengarak. Upacara Tabot / Tabuik merupakan sebuah
tradisi masyarakat di Bengkulu dan di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan
secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asyura yang jatuh pada
tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam untuk memperingati kematian cucu Nabi
Muhammad, Husein.
24. Muang Jong atau Buang Jong dari
Bangka Belitung
Buang Jong merupakan salah satu
upacara tradisional yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku
Sawang di Pulau Belitung. Suku Sawang adalah suku pelaut yang dulunya, selama
ratusan tahun, menetap di lautan. Muang Jong sendiri memiliki arti melepaskan
perahu kecil ke laut. Perahu kecil tersebut berbentuk kerangka yang didalamnya
berisikan sesajian. “Ancak” yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang
melambangkan tempat tinggal. Tradisi budaya ini secara turun-temurun dilakukan
setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung menjelang musim
Tenggara, sekitar bulan Agustus atau September. Dimana angin dan ombak laut
pada bulan tersebut sangat ganas dan mengerikan. Ritual Muang Jong dengan
bertujuan memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa,
terutama di laut.
25. Kain Tapis dari Lampung
Awal mula kain tapis dibuat sebagai
bentuk penghormatan kepada leluhur, misalnya saja adanya motif kapal, kapal
digambarkan sebagai wahana atau kendaraan roh dalam perjalanan menuju alam
setelah meninggal (alam baka). Serta dikaitkan dengan bentuk pemujaan terhadap
tokoh leluhur atau nenek moyang. Selanjutnya penggunaan kain tapis dalam
perkembangannya dimanfaatkan pada acara-acara adat sepanjang lingkaran hidup
yang terkait dengan ritual keagamaan. Ritual tersebut adalah sarana untuk
menghubungkan manusia dengan alam roh. Penggunaan kain tapis sangat erat
kaitannya dengan penggunaan secara praktis dan fungsi simbolis yang kemudian
diberi makna ritual. Muatan simbol pada kain tapis adalah sebagai penghubung
dari berbagai makna pelaksanaan upacara adat di sepanjang lingkaran hidup manusia.
26. Ondel Ondel dari DKI Jakarta
Ondel-ondel adalah pertunjukan
rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa
ini menjadi wilayah Betawi. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater
tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek
moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat
dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan “bekakak”
dalam upacara “potong bekakak” digunung gamping disebelah selatan kota
Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan sapar setiap tahun.
27. Topeng dan Lenong dari DKI
Jakarta
Lenong adalah seni teater rakyat
atau pertunjukan rakyat dari Betawi. Lenong biasa dilengkapi dengan dekor yang
disesuaikan dengan babak cerita. Pertunjukan dimulai dengan musik gambang
kromong dengan lagu-lagu khas betawi seperti jali-jali, Persi, Stambul, Cente
Manis, Balok, dan lain sebagainya. Cerita lakon biasanya berkisar tentang
kerajaan. Seni lenong biasa disebut juga dengan Lenong Denes dan Lenong Preman.
Lenong Denes biasanya menyajian cerita kerajaan (bangsawan) yang bajunya mewah,
perabot mewah. Sedangkan lenong preman berkisar kehidupan sehari-hari yang
mengisahkan jagoan, tuan tanah, drama rumah tanggal, dan sebagaianya.
28. Pantun Betawi dari DKI Jakarta
Carita Pantun adalah cerita legenda
yang mengandung unsur kesejarahan yang kebanyakan berisi berbagai rangkaian
peristiwa atau petualangan para bangsawan dalam perebutan kekayaan dan wanita
yang pada akhirnya, bila mereka menghadapi kesulitan yang luar biasa, selalu
diselesaikan dengan pertolongan daya supernatural.
Penyelenggaraan pertunjukan biasanya
semalam suntuk dari puku 21.00 sampai pukul 05.00 dini hari kecuali untuk
khitanan, yang biasa diadakan pada pagi hari. Sekitar tengah malam ada
adegan-adegan humor. Pada acara ruatan ada dua buah cerita yang disajikan yaitu
antara pukul 21.00 sampai 03.00 berupa cerita hiburan, dan sisanya cerita
Batara Kala. Adapun tempat pertunjukan biasanya d dalam rumah.
29. Ronggeng Gunung dari Jawa Barat
Ronggeng gunung adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang terdapat
di Kabupaten Ciamis tepatnya berasal dari Kecamatan Banjarsari. Dari namanya, ronggeng
gunung menunjukkan kesenian dengan peran utamanya ronggeng atau
penari perempuan. Kesenian tersebut muncul dan berkembang di wilayah
pegunungan. Sebagai tarian rakyat, ronggeng gunung memilki daya tarik
tersendiri bagi penontonnya. Meskipun kini berkembang sebagai kegiatan hiburan,
keberadaannya masih pada posisi statis di antara perkembangan kesenian lain.
Padahal, ronggeng gunung merupakan salah satu identitas budaya
masyarakat Ciamis.
30. Sisingaan dari Jawa Barat
Lahirnya kesenian Sisingaan terkait erat
dengan situasi sosial politik pada masa kolonial, yaitu ketika wilayah
Subang dijajah dan diduduki oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan
selanjutnya ketika wilayah Subang menjadi daerah perkebunan yang dikuasai
secara bergantian oleh para penguasa tuan tanah berbangsa Belanda dan Inggris.
Kesenian sisingaan ini dipersepsikan oleh banyak kalangan sebagai suatu
bentuk kesenian yang mengekspresikan perlawanan dan pemberontakan, serta rasa
ketidakpuasan terhadap penguasa (tuan tanah dan pemerintah Hindia Belanda).
31. Kujang dari Jawa Barat dan
Banten
Secara umum, Kujang mempunyai
pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari
para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini
Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat
(Sunda). Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat
Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera
dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi
lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis.
Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih
dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer
Pangawinan di Sukabumi.
32. Debus dari Banten
Kesenian Debus di Banten pada
awalnya berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada masa penjajahan
Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini digunakan
untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda.
Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya berfungsi
sebagai sarana hiburan semata. Kesenian yang disebut sebagai debus ini
ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke
Aceh pada abad ke-16. Para pengikut tarikat ini ketika sedang dalam kondisi epiphany
(kegembiraan yang tak terhingga karena “bertatap muka” dengan Tuhan), kerap
menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi yang mereka
gunakan adalah “lau haula walla Quwata ilabillahil ‘aliyyil adhim” atau
tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan,
maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka.
33. Calung dari Jawa Barat
Pada masa awal penyebaran Islam,
seni calung sering dipadu dengan lengger (le = thole = sebutan untuk
anak laki-laki, dan ngger = angger = sebutan untuk anak perempuan). Seni
calung digunakan sebagai alat untuk memanggil atau mengumpulkan anak-anak untuk
diberikan pengetahuan baru yaitu tentang ajaran Islam. Seni calung
berkembang di wilayah Banyumas. Wilayah Banyumas adalah wilayah budaya kulonan
yang memiliki karakteristik cenderung apa adanya (blaka suta), lugu dan
aksen ngapak. Ciri khas ini tercermin pada syair-syair lagu yang dipadu
dengan irama musik calung serta senggakan-senggakan yang terkesan vulgar.
34. Gerabah Kasongan dari Yogyakarta
Gerabah Kasongan merupakan kerajinan
asli dari Yogyakarta. Hasil kerajinan gerabah Kasongan pada umumnya adalah
alat-alat keperluan dapur, guci, pot /vas, patung loro blonyo, air mancur,
wuwung, dan produk-produk keramik lainnya. Khusus untuk guci, dapat ditemukan
banyak bentuk & varian guci di Kasongan. Guci merupakan salah satu jenis
keramik yang kerap diburu para wisatawan. Selain karena ukurannya yang beragam,
mulai dari setinggi dua jengkal tangan hingga seukuran bahu orang dewasa, guci
di Kasongan juga memiliki banyak varian finishing. Dilihat dari
perkembangannya, finishing guci yang banyak ditemui di Kasongan adalah
finishing alami, yang hanya menggunakan cat sebagai media ‘sentuhan akhir’ dari
guci tersebut.
35. Reog dari Ponorogo, Jawa Timur
Sejarah lahirnya kesenian ini pada
saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit. Untuk menyindir sang
raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang
ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Tutu Suryo. Lebih lanjut cerita rakyat
yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada jaman kekuasaan Betoro Katong,
penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu
dilestarikan.
Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita
legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono
Suwandono. Kesenian Reyog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar
mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut
agama Hindu Siwa. Masuknya Raden Patah untuk mengembangkan agama Islam
disekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian Reyog ini.
Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut
Samagini.
36. Karapan Sapi dari Madura, Jawa
Timur
Karapan sapi merupakan salah satu
jenis kesenian/olahraga/permainan tradisional yang selalu dilakukan oleh
masyarakat P. Madura, Jawa Timur. Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah
dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan
sapi. Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan
bahwa istilah “kerapan” berasal dari kata “kerap” atau “kirap” yang artinya
“berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong”. Sedangkan,
versi yang lain menyebutkan bahwa kata “kerapan” berasal dari bahasa Arab
“kirabah” yang berarti “persahabatan”.
37. Sapi Sonok dari Madura, Jawa
Timur
Kontes Sapi Sonok merupakan seni
pertunjukan masyarakat Madura dalam rangka menghargai dan menghormati hewan
sapi. Kegiatan ini selalu digelar setiap tahun secara bergiliran di 4 kota
kabupaten Madura (Bangkalan, Sampang, Dan Sumenep). Kontes sapi Sonok
dilaksanakan bersamaan dengan Karapan Sapi. Dalam kontes ini, sepasang Sapi
Sonok dinilai berdasarkan kriteria tertentu yang meliputi kecantikan,
keserasian, serta kesehatannya.
38. Tari Gandrung dari Banyuwangi,
Jawa Timur
Tari Gandrung berasal
dari kata “gandrung”, yang berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’
dalam bahasa Jawa. Kesenian ini masih satu genre
dengan seperti ketuk
tilu di Jawa Barat, tayub
di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger
di wilayah Banyumas dan joged
bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang
wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan
iringan musik (gamelan).
39. Tari Kentrung dari Jawa Timur
Seni kentrung yang berkembang abad
16 adalah salah satu bentuk kesenian yang amat kental dengan dua dimensi yaitu
dimensi estetik dan istetis yang menjadi unsur utama dalam konstrusi utama
kesenian itu sendiri. Alat musik ini terdiri dari kendang rebana, kentrung dan
jidur. Sebuah grup terdiri dari 3-7 penabuh dan 1 dalang pembaca patokan Jawa
yang berkaitan dengan lakon yang dipentaskan.
40. Makepung dari Bali
Makepung adalah atraksi balapan kerbau berasal dari Kabupaten
Jembrana, Bali. Kata Makepung berasal dari kata makepung-kepungan (bahasa
Bali) artinya berkejar-kejaran, inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan
proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur
dengan memakai lampit. Lampit ditarik oleh dua ekor kerbau dan
sebagai alat penghias kerbau, maka pada leher kerbau tersebut dikalungi gerondongan
(gongseng besar) sehingga apabila kerbau tersebut berjalan menarik lampit
maka akan kedengaran bunyi seperti alunan musik.
41. Kain Bidai dari Kalimantan
Bidai, bide’, atau kasah bide’
merupakan hasil seni kriya tradisional masyarakat Bidayuh yang berbentuk
lembaran anyaman, dan terbuat dari kulit kayu dan rotan. Pada masa lalu bidai
atau kassah bide banyak digunakan untuk menjemur hasil panen berupa padi-padian
atau palawija, dan juga digunakan untuk perlengkapan rumah. Baik untuk alas
tidur atau fungsi lainnya yang sejenis. Karena bahan bakunya yang terbuat dari
rotan kecil yang dan kulit kayu, bidai atau kassah bide’ ini memiliki bentuk
anyaman yang khas alam serta kuat atau tahan lama. Sekalipun itu pernah atau
sering terendam air dan terkena panas matahari langsung.
42. Songket Sambas dari Kalimantan
Barat
Songket Sambas adalaha salah satu
seni kerajinan tekstil tenun khas Kalimantan Barat. Motif-motif yang dipakai
pada saat ini tidak diketahui siapa yang menciptakannya dan itu motif-motif itu
terus berkembang sesuai dengan kemampuan dari perajin tersebut. Motif yang
tergambar dalam tenunan ini biasanya berkaitan dengan alam dan lingkungan
hidup. Adapun motif yang banyak dipakai antara lain; pucuk rebung, tabur
awan berarak, serong bunga mawar terputus, tabur melati setangkai dan masih
banyak yang lainnya.
43. Rumah Panjang Dayak (Lamin,
Betang, dan Radaakng, Uma Dadoq) dari Kalimantan Barat,
Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
Rumah tradisional masyarakat Dayak.
Lamin merupakan bangunan yang berdiri di atas tiang-tiang penyangga berupa kayu
bulat atau balok. Konstruksi tiang penyangga ini membentuk kolong dan merupakan
penyangga atau pendukung lantai dan atap. Bentuk dasar bangunan empat persegi
panjang, bentuk dasar atap berupa prisma dengan konstruksi atap pelana. Bagian
depan lamin dapat di tambah dengan serambi yang memanjang mengikuti
bentuk bangunan.
44. Karungut dari Kalimantan Tengah
dan Kalimantan Selatan
Puisi tradisional suku Dayak Ngaju.
Karungut berasal dari kata karunya yang diambil dari bahasa Sangiang dan
bahasa Sangen/Ngaju Kuno. ‘Karunya’ berarti tembang. Puisi tradisional atau
puisi rakyat yang dikenal di Kalimantan Tengah ini diwariskan oleh nenek moyang
mereka dalam bentuk lagu dan syair yang disusun sendiri oleh penciptanya,
sepanjang tidak menyimpang dari kaidah yang telah dianggap baku. Di awal
perkembangannya, bahasa yang digunakan dalam karungut adalah bahasa
Sangen (Ngaju Kuno), tapi kini sangat jarang dipergunakan lagi. Dahulu salah satu
fungsi karungut adalah sebagai media pengajaran. Karena seorang balian
(guru atau dukun) menyampaikan pengajaran kepada para muridnya dengan mengarungut.
Sementara para muridnya menjawab atau melaksanakan perintah dari gurunya dengan
mengarungut pula.
45. Sasirangan dari Kalimantan
Selatan
Kain sasirangan merupakan kain batik
yang terdapat di kalimantan selatan. Proses pembuatannya sudah dilakukan secara
modern. Bahan yang digunakan untuk membuat kain sasirangan pada awalnya berasal
dari serat kapas atau katun. Dalam perkembangannya, bahan baku ini
berkembang bukan saja dari kapas, melainkan juga dari bahan non kapas.
Tetapi yang jelas bahan bakunya berasal dari bahan baku berupa kain. Adapun
jenis-jenis kain yang dijadikan bahan baku tersebut pada dasarnya hanya
terdiri dari tiga jenis saja yaitu kain sutera, kain saten atau sating dan kain
katun. Pengertian kain Sasirangan itu sendiri secara umum adalah sejenis
kain yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur, kemudian diikat dengan
benang atau tali raffia dan selanjutnya dicelup.
46. Ulap Doyo dari Kalimantan Timur
Seni kerajinan tekstil masyarakat
Dayak Benuaq. Bahan utama untuk menenun adalah benang doyo, yang berasal dari
serat daun ulap doyo (Curcoligo latifolia lend.) yang berbentuk lebar.
Jenis tumbuhan ini banyak tumbuh di dataran yang berpasir, di antara semak dan
ilalang, dan tumbuh dekat rawa. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini
berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dahulu bahan ini dipergunakan
mengingat benang dari kapas masih susah ditemukan. Konon, pohon Doyo ini hanya
boleh ditanam oleh perempuan, serta tabu atau pantang dikerjakan oleh lelaki.
Dengan teknik tertentu daun ini dipintal hingga berbentuk benang yang
kuat untuk ditenun.
47. Belian Bawo dari Kalimantan
Timur
Belian bawo adalah Tradisi ritual
pengobatan alternatif orang sakit. Upacara belian bawo berkaitan dengan
alam kepercayaan Suku Dayak Benuaq, yang didasari keyakinan religiusitasnya.
Oleh karena itu upacara belian bawo sarat dengan fungsi spiritual
(religius). Kepercayaan ini yang merupakan motor penggerak seluruh sendi
kehidupan masyarakat Suku Dayak Benuaq yang di antaranya terwujud dalam
penghormatan arwah nenek moyang, kepercayaan akan adanya kekuatan-kekuatan
gaib, dan makhluk-makhluk halus. Perasaan ini mendorong mereka untuk selalu
berusaha menyenangkan hati roh leluhur dan makhluk halus yang melingkupi
kehidupan mereka, karena hal-hal itu diyakini sebagai sumber malapetaka dan
pertolongan.
48. Hudoq dari Kalimantan Timur
Hudoq adalah tarian tradisional suku
Dayak Modang yang terdapat di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tari Hudoq
merupakan tarian sakral yang erat kaitannya dengan prosesi ritual atau upacara
adat. Saat menari, para penari Hudoq menggunakan topeng menyerupai binatang
buas dan terbuat dari kayu. Tubuh mereka ditutupi dengan daun pisang, daun
kelapa, atau daun pinang. Masing-masing penari itu memerankan karakter
tokoh-tokoh hudoq (gambaran dewa yang memiliki kekuatan gaib). Daerah
sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Kalimantan Timur.
49. Tari Maengket dari Sulawesi
Utara
Tari tradisional masyarakat
Minahasa. Tarian ini dilakukan oleh sekelompok orang yang menyanyi sambil
menari bahkan saling berpegangan tangan dan di pimpin oleh seseorang (Kapel)
yang akan mengangkat suara/lagu pertama (Tumutuur) serta
tambur sebagai alat pengiringnya. Kegiatan dimaksud berkaitan upacara dengan
tujuan menerangi,membuka jalan dan mempersatukan masyarakat pendukungnya. Hal
ini dilakukan dalam situasi kegiatan panen padi (Maowey/Makamberu),selamatan
rumah baru (Marambak) dan pergaulan muda mudi (Lalaya’an). Daerah
sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Utara.
50. Mane’e dari Sulawesi Utara
Mane’e merupakan kegiatan menangkap
ikan dengan janur (Samih) yang dilakukan oleh masyarakat Kakorotan.
Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada kabupaten Kep. Talaud (Perbatasan
Filipina) provinsi Sulawesi Utara. Mane’e atau penangkapan ikan bersama bagi
masyarakat kepulauan Talaud telah berlangsung sejak lama. Menurut penuturan
masyarakat, dimulai sekitar abad ke-16. Kebiasaan ini dilakukan pada setiap
tahun biasanya jatuh pada bulan Mei atau Juni dan telah berlangsung
sejak dahulu sampai saat ini, sehingga pemerintah kabupaten berupaya mengangkat
tradisi ini menjadi salah satu objek wisata. Lokasi “Mane’e” yang dipilih dan
ditetapkan oleh pemerintah daerah terdapat di desa Kakorotan.
51. Kolintang dari Sulawesi Utara
Kolintang adalah alat musik khas
dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar kayu, jika dipukul
dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi
maupun rendah, seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya
(jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun
sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar). Kata Kolintang berasal dari
bunyi: Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah). Dahulu
dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain Kolintang “mari kita
ber-Tong, Ting, Tang” dengan ungkapan “Maimo Kumolintang” dan dari kebiasaan
itulah muncul Kolintang.
52. Saiyyang Patu’duq dari Sulawesi
Barat
Saiyyang Pattu’duq adalah tradisi
ritual mengarak menggunakan kuda. Saiyyang Pattuqduq (bahasa Mandar, saiyyang
artinya kuda, pattuqduq artinya penari); saiyyang pattuqduq artinya kuda yang
pandai menari, pandai memainkan gerakan kepala dan gerakan kaki. Saiyyang
pattuqduq digunakan dalam: a) tunggangan anak yang khatam Al Qur’an saat diarak
keliling kampong, umumnya dilaksanakan pada peringatan mauled Nabi Muhammad
saw, b) tunggangan tamu (penjemputan) tamu kehormatan, c) tunggangan karena
adanya nadzar, dan d) sekedar hiburan atau pertunjukan. Daerah
sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Barat.
53. Tari Raigo dari Sulawesi Tengah
Tarian Raigo merupakan kesenian yang
turun-temurun yang digiatkan melalui suatu upacara adat yang dimaksudkan
sebagai pernyataan kesyukuran atas pencapaian suatu hasil usaha seperti
bercocoktanam terutama menanam padi. Tarian ini bukan hanya semata-matasebuah
bentuk kesenian (hiburan) namun tarian ini tidakdapat terlepas dari beberapa
pelaksanaan upacara adat diwilayah Kulawi atau pun di lembah Bada. Daerah
sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tengah.
54. Kalosara dari Sulawesi Tenggara
Kalo atau kalosara merupakan sebuah
benda yang terbuat dari tiga utas rotan yang dipilin atau dililit membentuk
sebuah lingkaran. Cara memilinnya adalah berlawanan dengan arah jarum jam
atau dipilin kea rah kiri. Ujung lilitannya tiga utas rotan ini kemudian
disimpul dan diikat dimana dua ujung rotan disembunyikan dalam lilitan sedangkan
satu ujung yang lainnya dibiarkan mencuat keluar.
Lilitan atau pilinan tiga utas rotan
merupakan symbol yang memiliki makna persatuan dan kesatuan dari tiga
stratifikasi orang Tolaki di jaman dahulu yakni : anakia atau golongan
bangsawan, towonua/ penduduk asli, toono motuo/ orang-orang yang dituakan
didalam suatu kampong, toono dadio/ orang kebanyakan, dan stratifikasi yang
ketiga yakni o’ata atau golongan budak.
Sebagai simbol hukum adat pada orang
Tolaki yang dipercaya telah diwariskan secara turun temurun, maka Kalosara
ditemukan dalam berbagai aturan hukum adat itu sendiri yakni dalam
bidang-bidang : hukum di bidang pemerintahan yang saat ini khususnya dalam
pemerintahan yang melibatkan tokoh-tokoh adat, hukum di bidang pertanahan,
hukum di bidang perkawinan, hukum di bidang tatacara membangun dan
membina rumah tangga, hukum di bidang pewarisan, hukum di bidang utang-piutang,
hukum di bidang konflik dan tatacara penyelesaiannya, dan hukum di bidang
pencemaran nama baik dan mencelakakan orang lain.
55.Kabhanti dari Sulawesi Tenggara
Kabhanti merupakan salah satu bentuk
tradisi lisan yang ada pada masyarakat Suku Muna. Kabhanti memiliki ciri yang
hampir sama dengan pantun / puisi lama. Kabhanti diciptakan oleh masyarakat
Suku Muna. Tradisi berucap pantun yang ada pada masyarakat Suku Muna, Sulawesi
Tenggara ini telah lama ada di Pulau Muna. Kabhanti merupakan tradisi berucap
pantun, baik yang diucapkan sendiri ( monolog ) maupun secara berbalas dalam
suatu kelompok (kelompok Laki-laki maupun kelompok perempuan. Isi dari kabhanti
biasanya mengemukakan serta menyampaikan hal hal yang berupa pesan moral bagi
masyarakat, nilai nilai keagamaan, petunjuk kehidupan / petuah, sindiran,
percintaan, serta nilai nilai budaya dan adat istiadat. Bagi masyarakat muna,
kabhanti bertujuan untuk memperkokoh nilai dan norma dalam masyarakat.
56. Lariangi dari Sulawesi Tenggara
Seni tari masyarakat Kep. Buton dan
Wakatobi Sulawesi Tenggara. Dimainkan oleh lima orang wanita. Daerah
sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tenggara. Tarian ini
merupakan tari persembahan dari Kaledupa untuk dimainkan di Istana Raja dalam
wujud gerakan dan nyanyian dengan fungsi utamanya adalah sebagai penerangan.
Berdasarkan makna kata Lariangi
yaitu terdiri dari dua suku kata :
• Lari yang berarti menghias atau
mengukir, baik itu dalam bentuk formasinya yang kadangkala berbentuk melingkar
dan sebagian ada yang duduk juga terlukis pada gerakan kipas atau lenso yang
bervariasi sesuai lagu yang dibawakan
• Angi adalah orang-orang yang
berhias dengan berbagai ornamen untuk menyampaikan informasi atau suatu maksud
tertentu berupa nasihat (petuah), anjuran ataupun sebagai hiburan yang nampak
pada gerkan tari dan nyanyiannya.
57. Kagati dari Sulawesi Tenggara
Permainan Layang-layang tradisional
suku Raha. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi
Tenggara. Layang-layang tradisional dari Pulau Muna ini terbuat dari lembaran
daun kolope (daun gadung) yang telah kering kemudian dipotong ujung-ujungnya.
Satu per satu daun tersebut dijahit dengan lidi dari bambu sebagai rangka
layangan, sementara talinya dijalin dari serat nanas hutan.
Permainan layang-layang (kaghati)
oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal
ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna.
58. Phinisi dari Sulawesi Selatan
Perahu layar tradisional masyarakat
Bugis-Makassar. Menurut cerita di dalam naskah Lontara La Galigo, mengatakan
kapal Pinisi pertama sudah ada sejak abad ke-14 yang dibuat oleh putra mahkota
Kerajaan Luwu, Sawerigading, untuk digunakan berlayar menuju Tiongkok. Kapal
tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari pohon welengreng (pohon
dewata) yang kokoh dan tidak mudah rapuh. Sebelum menebang pohon tersebut,
terlebih dahulu dilaksanakan ritual khusus agar penunggunya bersedia pindah ke
pohon lainnya. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi
Selatan.
59. Pa’gellu dari Sulawesi Selatan
Tari Pa’gellu adalah suatu karya
seni tari tradisional di Toraja (Tana Toraja, Toraja Utara) yang sejak dahulu
dilakukan oleh gadis-gadis berjumlah 5 orang dengan iringan gendang, untuk
upacara-upacara Rambu Tuka’ (syukuran panen, rumah adat yang baru dibangun),
pesta perkawinan, penyambutan tamu-tamu agung dan pesta-pesta lainnya, kecuali
upacara pemakaman orang Toraja. Tari Pa’gellu’ hanya bisa dilakukan oleh
wanita, gadis dewasa karena seni Tari Pa’gellu’ tujuannya adalah hiburan dan
bersifat rekreatif, selain menghibur juga membuat penonton menjadi senang dan
khusus tamu yang di sambut merasa terhormat. Hampir setiap saat kita dapat
menyaksikan penampilan seni Tari Pa’gellu’ ini di Toraja, bahwa luar Toraja
dimana ada orang Toraja. Rasanya kurang lengkap sebuah pesta dan keramaian
lainnya tanpa tari ini kecuali upacara kematian tidak ada Tari pa’gellu’.
60. Sinliriq dari Sulawesi Selatan
Tradisi lisan masyarakat Makassar
yang berupa pembacaan sastra dengan diiringi rebab. Isi dari sastra sebagian
diisi dengan pesan moral dan ajakan kepada masyarakat untuk menuju kebaikan.
Selain itu, terkadang pemerintah juga menggunakan media Sinriliq untuk mensosialisasikan
program-program pemerintah. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada
provinsi Sulawesi Selatan.
61. Pakkarena dari Sulawesi Selatan
Tarian Pakarena dibawakan oleh
penari perempuan yang mempertunjukkan kelemah-lembutan perempuan-perempuan
Makassar. Tarian ini lebih banyak mempertunjukkan gerak tangan yang terayun ke
samping kiri dan kanan serta ke depan secara beraturan dan lamban Namun gerakan
tangan tersebut terangkat paling tinggi hanya setinggi bahu tidak pernah
terangkat hingga setinggi kepala. Tangan kanannya selalu memegang kipas. Tari
Pakarena adalah tarian tradisional dari Makassar. Pada abad 20, tari ini mulai
keluar dari tradisi istana dan menjadi pertunjukan yang sangat populer. Tari
ini sangat enerjik, terkadang juga begitu hingar bingar oleh musik, namun
diiringi oleh tarian yang sangat lambat lemah gemulai dari para wanita muda.
Dua kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling
(puik-puik) mengiringi dua penari. Kelembutan mendominasi kesan pada tarian
ini. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Selatan.
62. Molapi Sorande dari Gorontalo
Tari Molapi saronde adalah tarian
ritual pernikahan adat Gorontalo. Tarian ini dilaksanakan oleh pengantin
laki-laki pada malam hari perkawinan mereka. Bahan yang digunakan adalah tiga
macam selendang yakni warna hijau, kuning, dan kuning telur. Pelaksanaan ritual
ini bertempatkan di tempat mempelai wanita. Daerah sebarannya umumnya
dapat ditemui pada provinsi Gorontalo.
63. Gendang Beleq dari Nusa Tenggara
Barat
Gendang beleq adalah suatu peralatan musik, dan disebut gendang
beleq karena gendang ini ukurannya besar dibandingkan dengan ukuran
gendang pada umumnya. Gendang berarti kendang dan beleq berarti
besar. Gendang besar (gendang beleq) ada dua jenis yang disebut
gendang mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan). Perbedaan
antara kedua gendang tersebut bukan pada bentuk fisiknya melainkan pada suara
yang dihasilkan yaitu gendang mama lebih nyaring daripada gendang nina.m
Gendang Beleq biasa dimainkan di panggung maupun di lapangan terbuka. Susunan
pendukung musik gendang beleq dan penarinya yang baku terdiri dari 40 orang,
dan dipertunjukkan pada acara-acara khusus seperti Maulud Nabi, Lebaran,
upacara perkawinan, khitanan dan cukur rambut bayi. Sedangkan yang tidak baku
terdiri dari 17 orang dipertunjukkan untuk menyambut tamu, perlombaan atau
festival. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara
Barat.
64. Wayang Kulit Sasak dari Nusa
Tenggara Barat
Wayang Kulit Sasak adalah Wayang
kulit yang berkembang di Lombok yang pada dasarnya mengambil cerita Menak yang
ceritanya bersumber dari Cerita Amir Hamsah yaitu paman Nabi Muhammad SAW.
Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Barat.
65. Sasandu dari nsua Tenggara Timur
Sasandu adalah alat musik petik khas
Orang Rote, Nusa Tenggara Timur, yang terbuat dari daun lontar dan kayu. Sasando
yang seharusnya bernama Sasandu (bunyi yang dihasilkan dari getar) lahir
dari inspirasi penemunya dari hasil interaksi dengan alam. Daerah sebarannya
umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.
66. Caci dari Nusa Tenggara Timur
Caci adalah tradisi permainan pada
suku manggarai dengan beranggotakan dua orang pemain yang saling memukul
menggunakan rotan dan perisai kulit kerbau. Dalam permainan caci ada penangkis
dan ada pemukul yang dilakukan secara bergantian berulang-ulang. Pemenang dalam
permainan ini adalah orang yang telah berhasil melukai lawannya di bagian
wajah. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara
Timur.
67. Rumah Bale’ dari Nusa Tenggara
Timur
Arsitektur Sumba disebut juga Rumah
Bale. dibedakan menurut status sosial pemiliknya, bala untuk rumah bangsawan
dan bale untuk rumah rakyat jelata. Rumah Orang Sumbawa berbentuk panggung.
Atap rumah Sumbawa tinggi seperti perahu dengan sudut sekitar 45 derajat. Di
bagian depan atas terdapat lebang yang dahulu menunjukkan status sosial
pemiliknya. Semakin banyak lebangnya, semakin tinggi status kebangsawanannya.
Selain lebang, ukuran rumah juga menandakan status sosial pemiliknya. Daerah
sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.
68. Tari Seka’ dari Maluku
Seni pertunjukan tari suku Babar
yang mengunakan gerak kaki sebagai tumpuhan dasar pergerakannya. Tarian ini
dijadikan sebagai tarian sakral bagi para ksatria negeri/kampung yang akan
berperang dengan sebuah asumsi bahwa tari seka besar mampuh secarah magis
melindungi, dan menjaga para pejuang negeri yang turun ke mendan perang. Daerah
sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku
69. Tais Pet dari Maluku
Kain tenun tradisional masyarakat
Tanimbar. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku.
Tais Pet memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dikalangan masyarakat tanimbar
sebagai simbol identitas diri. Pengenalan identitas diri itu terabstraksi lewat
ikatan emosional komunitas Tanimbar yang memberikan nuansa persaudaraan,
tenggang rasa, saling menghormati dan rasa sepenanggungan. Kemudian fungsi ini
juga berlanjut secara lokal, regional maupun secara nasional, sehingga merajut
ikatan-ikatan sosial terhadap pengenalan masyarakat Maluku dan atau
bangsa Indonesia pada umumnya. Selain itu juga Tais pet memberikan
nuansa warna sebagai simbol status sosial, sehingga memberikan petunjuk
terhadap status seseorang dalam struktur masyarakat. Warna hitam dan coklat
merupakan warna kebesaran atau kewibawaan dalam diri seorang pemimpin. Warna
merah, kuning dan putih merupakan cermin keberanian, kejujuran, ketulusan,
keiklasan dan kesucian hati masyarakat.
70. Tari Maku-maku dari Maluku
Tari Maku-maku adalah tarian
tradisional yang bersifat sosial yakni merupakan tarian pergaulan yang
bertujuan untuk mempererat keakraban antara anggota masyarakat dalam hal ini
anak cucu Maluku. Tarian ini secara garis besar merupakan lambang persekutuan
anak-anak masyarakat Maluku. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada
provinsi Maluku.
71. Bambu Gila dari Maluku Utara
Tarian /seni pertunjukan yang
dilakukan oleh lebih dari sepuluh orang dengan memegang satu batang bambu
sepanjang satu meter/ sesuai kebutuhan. Pemegang bambu dipertontonkan tidak
kuat. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku Utara
72. Soya-soya dari Maluku Utara
Seni Tradisi Tari Rakyat Maluku
Utara. Tarian soya-soya tercipta pada masa Sultan Baabullah (Sultan Ternate
Ke-24), dari Kesultanan Ternate, untuk mengobarkan semagat pasukan
pasca-tewasnya Sultan Khairun pada 25 Februari 1570. Saat itu, tarian soya-soya
dimaknai sebagai perang pembebasan dari Portugis hingga jatuhnya tahun 1575.
Para penari akan menampilkan tarian yang lincah dimana merefleksikan gerak
menyerang, mengelak dan menangkis. Jumlah penari soya-soya sendiri tidak
ditentukan. Bisa hanya empat orang dan bahkan hingga ribuan penari.
73. Tari Yosim Pancar dari Papua
Tari Yospan adalah taian pergaulan
atau persahabatan para muda-mudi masyarakat Papua. Pertunjukan Tarian Yosim
Pancar biasanya dilakukan lebih dari satu orang, dan memiliki gerakan dasar
yang penuh semangat. Tarian Yosim Pancar sama sekali bukan tarian tradisi,
melainkan tarian kontemporer yang dimodifikasi dengan berbagai tarian rakyat.
Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua
74. Ukiran Asmad dari Papua
Sejak tahun 1700-an, suku Asmat di
Papua telah dikenal dunia dengan keterampilan mengukirnya. Kesenian mengukir di
Asmat merupakan aktualisasi dari kepercayaan terhadap arwah nenek moyang yang
disimbolkan dalam bentuk patung serta ukiran. Daerah sebarannya umumnya dapat
ditemui pada provinsi Papua.
75. Barappen dari Papua dan Papua
Barat
Bakar batu merupakan sebuah
aktifitas memasak yang dilakukan oleh masayarakat suku Dani di Papua, dengan
menggunakan media batu yang dipanaskan di api hingga menjadi berwarna merah dan
benar-benar panas yang kemudian akan diselipkan di antara bahan-bahan yang akan
diolah atau dimasak untuk dikonsumsi secara bersama-sama. Bahan utama yang
digunakan adalah daging babi, saat ini dikembangkan selain babi (ikan, kelinci,
ayam, kambing, dsb.) Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi
Papua dan Papua Barat.
76. Tifa dari Papua, Papua Barat,
NTT, dan Maluku
Alat musik perkusi khas Papua simbol
perdamaian bagi masyarakat Papua tempo dulu. Bilamana terjadi perang diantara
suku-suku di Papua. Para tua adat lantas membunyikan tifa untuk memanggil wakil
dari kedua pihak berdamai. Namun kini, tifa tak lagi digunakan bagi suatu
perdamaian. Tapi lebih digunakan dalam rituil adat, seperti pesta adat,
perkawinan, menyambut tamu-tamu penting dan lain-lain. Daerah sebarannya
umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa
Tenggara Timur
77. Randang dari Sumatera Barat
Rendang dalam bahasa Minangkabau
disebut dengan randang adalah salah satu makanan tradisional khas
Minangkabau yang sangat terkenal ke seantaro penjuru nusantara. Randang tersebut
memiliki beberapa warna, yakni merah kecoklatan, coklat, sampai coklat
kehitaman. Pengertian randang yang diambil dari kata marandang, yakni
suatu proses pengolahan lauk berbahan dasar santan yang dimasak sampai
kandungan airnya berkurang, bahkan sampai kering sehingga apabila disebut randang
itu artinya olahan masakan yang kering tanpa mengandung air.
SUMBER : KEMDIKBUD
SUMBER : KEMDIKBUD

Posting Komentar